Sabtu, 08 September 2012

Resensi Kumpulan Cerpen


“ Apakah Cemara Itu ? ”





Judul buku      : CEMARA
Pengarang       : Hamsad Rangkuti
Penerbit           : Nusa Agung dan Kreasi  Media Utama
Cetakan           : Kedua, 2004
Tebal               : 198 halaman
Kertas isi         : HVS 70 gram/m2
Kertas Kulit    : Art Karton 180 gram/m2

 Membaca kumpulan cerpen “CEMARA” karya Hamsad Rangkuti ini, kita seakan diajak untuk masuk dalam pola pikir yang berdimensikan problematika masyarakat tempo dulu. Cerpen ini mungkin dapat mengobati rasa rindu para pembaca yang ingin bernostalgia dengan karya sastra tahun ’60-an. Kisah yang ia tuangkan dalam karyanya tersebut mengambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang masih konservatif dan percaya dengan tahayul. Kita akan serasa berhadapan secara langsung dengan begitu sederhananya zaman dahulu. Berbeda dengan Indonesia dewasa ini, kemajuan teknologi membuat pemikiran masyarakat berkembang. Namun masyarakat lebih suka sesuatu yang instan sehingga mayoritas manusianya menjadi konsumtif.

            Beranjak dari situ kemunculan cerpen ini di dasari oleh masa lalu sang pengarang. Hamsad Rangkuti adalah anak  keempat dari enam bersaudara, mereka  hidup menderita sejak kecil. Ia lahir 7 Mei 1943 di Titikuning, Medan, Sumatera Utara. Dia pernah membantu ibunya bekerja sebagai buruh pengutip ulat tembakau di Lubuk Pakam. Setelah beberapa kali berpindah-pindah tempat tinggal, keluarga itu menetap di Kota Kisaran, tempat ayahnya bekerja sebagai penjaga malam. Hamsad kerap menemani ayahnya berjaga. Pada saat melawan kantuk, sang ayah rajin bercerita kepadanya. “Mungkin kepandaian bercerita itu kemudian menurun kepada saya, “kata Hamsad kelak.

            Ketiadaan biaya membatasi pendidikan Hamsad sampai tingkat SMA. Sejak 1960 ia menulis cerpen. Pada 1964 salah seorang utusan Sumatera Utara ke Konperensi Karyawan Pengarang Indonesia (KPKI) di Jakarta. Ia menetap di Jakarta sejak 1965. Cerpennya dimuat di berbagai koran dan majalah antara lain: Kompas, Mutiara, Gadis, Sarinah, Kartini, Femina, Horison, dan Salam.

            Cemara merupakan kumpulan cerpennya yang kedua setelah Lukisan Perkawinan, Penerbit Sinar Harapan, 1982. Terakhir Hamsad Rangkuti bekerja di Yayasan Indonesia dan majalah sastra Horison, Jakarta.

Dalam buku yang ditulis oleh Hamsad Rangkuti, ada dua puluh cerpen menarik yang ia ungkapkan dalam karyanya tersebut. Dua puluh cerpen tersebut  kebanyakan memiliki cerita yang unik, dan terkadang  mengandung  unsur magis. Salah satu cepen yang berjudul “Cemara” yang juga menjadi judul bukunya, melukiskan bagaimana seorang wanita yang meninggal akibat kecelakaan di tempat kerjanya. Wanita itu  bernama Mariam, ia berbadan kurus dengan rambut yang panjang. Rambut itulah yang mencelakakannya.

 Rini adalah teman Mariam. Ia juga berkerja dalam pabrik baju kaus  yang sama dengan tempat Mariam bekerja. Pada saat jam istirahat, Mariam membuka kain pembungkus rambut kepalanya. Dia kibaskan gulungan rambut itu karena gerah. Mariam mengira semuanya berjalan sebagaimana lazimnya: mesin berhenti begitu sirene berdengung. Tetapi, ujung rambut itu melilit cepat pada bagian mesin yang berputar itu, seketika saja menyentakan kepala Mariam hingga mesin penggulung benang itu merenggut kulit kepalanya. Seminggu Mariam dirawat di rumah sakit, seminggu di rumah, dan dia meninggal.

Beberapa hari setelah Mariam dimakamkan, Rini datang berkunjung ke rumah almarhumah sahabatnya itu. Ibu Mariam memberikan cemara Mariam kepada Rini. Cemara yang berarti rambut, ini diberikan kepada Rini sebagaimana  amanat dari Mariam .

Ada juga cerpen dengan judul “Muntah Emas” yang berisi tentang seorang penumpang bus yang bersedia duduk di kursi yang di bawahnya terdapat muntah yang berserakan. Ia masuk dalam bus yang penuh. Tetapi kelihatan aneh, ada satu bangku kosong yang tak seorang pun mau menempatinya. Ia tidak mau ambil pusing, dan melangkah menuju bangku kosong itu. Malahan orang memberi jalan untuknya. Begitu ia sampai di bangku kosong itu, tenyata telah menjemput muntah berserakan di atas lantai. Orang-orang mengira ia akan sama seperti penumpang lain yang mengurungkan niatnya  untuk duduk di atas bangku itu .

Tetapi tak disangka ia masuk ke celah bangku dan duduk seenaknya di depan muntah yang berserak. Penumpang lain terdiam memandang. Ia perhatikan muntah itu. Beberapa potongan mie, selada, dan potongan-potongan kecil bakso ada disana. Semuanya berwarna kuning dan berlendir. Dalam benaknya, ia pernah mengalami hal serupa sebelumnya malahan ia mendapatkan lima buah gigi emas bercampur muntah yang berserak di atas lantai bus. Ia pikir, ia tidak perlu menceritakan kepada penumpang lain bagaimana ia memungut lima buah gigi emas dari muntah, dan menguangkannya di toko emas.

Lain halnya dengan cerpen yang satu ini, “Lagu di Atas Bus” mungkin agak berbeda dengan cerpen Hamsad Rangkuti lainnya. Cerpen ini cenderung lebih banyak percakapan dibanding narasinya. Bus menjadi setting tunggal dalam  cerpen ini. Kisah ini berawal dari  sebuah bus malam jarak jauh meluncur dalam kecepatan sedang-sedang saja. Orang-orang di dalam bus tidak tertidur. Mereka merasa segar, karena mereka baru saja selesai makan malam di tengah perjalanan mereka.


 Sopir menghidupkan tape recorder. Para penumpang mendengarkan lagu berkumandang sambil berlena-lena. Tetapi di tengah-tengah lagu itu, terdengar orang berteriak :
“Bolehkah lagu itu ditukar ? saya ingin mendengarkan lagu jazz !” kata orang yang berteriak itu.
“Tolong Pak Sopir. Lagunya ditukar saja dengan irama jazz,” kata penumpang yang lain.
“Tetapi saya tidak punya kaset jazz !” kata sopir.
“Aku membawa kaset lagu yang aku minta !” Orang yang meminta lagu jazz mengeluarkan kaset jazz dari dalam sakunya dan berkumandanglah lagu jazz.

Tetapi, baru beberapa detik saja lagu itu berkumandang terdengar pula orang berteriak sama halnya dengan orang sebelumnya yang ingin lagu jazz itu ditukar dengan lagu disko. Begitu seterusnya, lagu itu selalu berganti seiring penumpang menginginkannya untuk ditukar dengan lagu kesukaan mereka. Mulai dari lagu  keroncong, dangdut, pop, gending jawa, kecapi sunda, saluang, Tapanuli modern, mars perjuangan.

Pergantian lagu itu berakhir pada lagu Indonesia Raya. Seseorang berseragam hijau lengkap dengan dua pistol di pinggangnya meminta lagu itu diputar. Tidak seorang pun mampu mencegah lagu itu berhenti sekali pun berani.
“Berarti kau penghianat! Kau boleh keluar dari dalam bus ini!” kata orang yang berseragam hijau lengkap  dengan dua pistol di pinggangnya.
Semua orang diam. Dan lagu Indonesia Raya itu berkumandang sepanjang perjalanan, sampai mereka tiba di terminal terakhir.

            Inilah esensi dari suatu resensi, yakni mengomentari dan menilai suatu buku dari berbagai aspek: aspek luar dan aspek isi. Menilai buku karangan Hamsad Rangkuti tentunya harus melihat dari berbagai sudut pandang. Jika di lihat dari aspek luar, perwajahan kulit muka buku kumpulan cerpen ini kurang menarik dan terkesan sederhana.  Seharusnya warna dasar dari covernya sendiri berwarna cerah agar para pembaca tertarik dengan penampilan buku ini. Sehingga dari pandangan pertama melihat buku ini pembaca akan berminat melihatnya seterusnya ia akan tertarik membeli.  Gambar seorang perempuan memakai gulungan rambut yang termuat di cover  kurang begitu jelas. Goresan gambar tidak detail. Dengan demikian tampilan cover buku ini akhirnya tampak kurang memiliki daya jual sebagai buku bacaan.
           
Namun demikian, gambar yang digunakan sebagai cover telah mampu mewakili maksud judul buku tersebut. Kemudian beralih ke berat maupun ketebalannya, buku ini menggunakan  jenis kertas HVS 70 gram/m2 berwarna putih dengan ketebalan 198 halaman. Melihat bahan yang digunakan, buku ini cukup ideal untuk jenis karya sastra. Dengan pilihan  kertas tadi tulisan akan mudah terbaca dengan jelas serta kertas akan  tidak mudah robek. Jenis huruf atau tipografi yang digunakan cukup besar sehingga mudah untuk dibaca. Tetapi juga tidak terlalu besar sehingga tidak menyebabkan pemborosan halaman. Huruf yang digunakan luwes, enak dipandang dan tidak menjenuhkan.

Menginjak pada aspek isi dari buku ini. Sebetulnya membuat sebuah cerpen merupakan suatu pekerjaan yang tidak mudah, karena begitu cerita di mulai pengarang harus berupaya bagaimana pembaca tidak berhenti membaca dan tetap setia menyusuri jalinan cerita sampai selesai. Namun ditangan sastrawan berbakat Hamsad Rangkuti, semua itu dapat ditangani dengan mudah, ia sangat piawai membangun daya emosi dan imajinasi pembaca. Mereka seakan dihadapkan pada impuls naratif yang memancing daya imajinasi dan juga hanyut seakan pembaca merasa ada di dalam cerita tersebut.

Secara garis besar tema dari masing-masing cerpen berbeda. Tema yang diangkat bervariasi berbeda dengan cerita pada umumnya. Cerita dalam cerpennya juga tidak mudah ditebak dan memberikan amanat tersendiri bagi pembacanya. Dengan kata lain, Hamsad mampu mengangkat sebuah cerita membosankan menjadi sebuah cerita yang sangat menabjubkan.

 Bagi pemuda masa kini mungkin kurang kenal dengan kata “Cemara”. Begitulah judul cerpen dari salah satu buku kumpulan cerpen ini, pasalnya cerita ini mungkin dapat berkontribusi dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan para pembaca khususnya kalangan muda. Sebab ini terkait dengan perbendaharaan kata. Pasti orang akan bertanya-tanya apa arti dari cemara. Cemara berarti rambut panjang yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk membuat sebuah konde.

Berlanjut pada tema yang diangkat dalam cerpen ini ialah seorang wanita yang meninggal akibat rambut panjangnya. Cerpen yang mempunyai keterbatasan ruang, itu digunakan penulisnya untuk melancarkan “ permainan halus”-nya dalam tema-tema cerita. Jalinan cerita, Ia dijadikan medium untuk melihat kembali dunia perempuan dengan segala aspeknya. Meski ia bukan perempuan, tetapi penulis mampu merangkum segala persoalan yang dialami perempuan dari sudut pandang perempuan.

 Dengan deskripsi tentang detail baik suasana maupun tempat yang diceritakan dengan mengalir indah, dialog antar tokoh-tokohnya yang saling bertautan, juga bangunan konflik yang di bangun, bisa untuk memancing daya emosi dan imajinasi pembaca seakan kita sendiri yang sedang mengalami konflik yang ada pada jalinan cerita tersebut. Selain itu ending yang sering tak terduga membuat pembaca tidak saja setia untuk menyusuri kata dan kalimatnya tapi bahkan bisa larut di dalamnya.

Bagaikan dua sisi mata uang, ketika menguak sudut lain dari buku ini yakni, kelemahannya. Cerita yang ditampilkan termasuk panjang dan bahasanya agak sulit dimengerti. Bagi orang yang tidak menyukai sastra, mungkin buku ini sedikit membosankan. Namun, bagi pecinta karya sastra, buku ini sangat menarik. Terlebih, semua cerpen ini dibuat pada tahun 1960-an. Sehingga, bahasa yang digunakan lebih sulit dimengerti oleh anak-anak remaja zaman sekarang dan cerita yang  juga mengarah pada masa-masa 1960-an.


Terlebih lagi dengan cerpen yang satu ini, “Lagu di Atas Bus” yang ceritanya sangat monoton. Konflik yang dituliskan terlalu bertele-tele dan tidak berkembang. Pembaca akan dibuat bingung membacanya, sebab mayoritas bacaannya lebih banyak percakapan dibanding naratifnya. Sehingga sistematika penceritaan dalam cerpen ini menjadi kurang menarik  . Ide yang diangkat dalam cerpen ini kurang masuk akal, sebab bagaimana bisa seolah-olah terjadi pergantian lagu yang berada dalam bus umum secara berkali-kali sampai sebelas pergantian lagu oleh penumpang.

Mengenai sistematika penulisan, ada beberapa cerpen yang pengaturan paragrafnya kurang baik. Dalam satu paragraf normalnya berisi enam sampai tujuh kalimat sedangkan satu paragraf yang ditulis dalam buku ini sebagian kecil ada yang berisi sampai dengan sebelas kalimat. Ini menyebabkan pembaca kesulitan memahami pokok pikiran dalam satu paragraf tersebut dan terkesan monoton. Selain itu kata-kata yang terdapat dalam cerpen banyak yang salah cetak. Misalnya dalam cerpen “Penyakit Sahabat Saya” yakni,
·         “Sesudah lama-ama saya perhatikan perbedaan itu, lalu saya tanya kepada pedagang sate itu esok harinya.”
·         Ke rnana?” kataku, tetapi para tetangganya tidak tahu.

Seharusnya penerbit lebih fokus lagi untuk menyeleksi kata per kata dari masing-masing cerpen. Karena salah mencetak kata akan merubah arti dari kata tersebut atau bahkan sebuah kata malah tidak memiliki arti apapun. Untuk itulah, penerbit wajib menindak lanjuti hal ini secara serius agar tidak terulang pada karya selanjutnya.

 Berbicara tentang manfaat, kumpulan cerpen ini mungkin dapat berkontribusi dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan para pembaca khususnya kalangan muda. Berbagai amanat yang tertuang dalam baris-baris yang pengarang tulis dapat dijadikan pelajaran hidup bagi si pembaca. Agar kedepannya dapat menjadi acuan hidup untuk menghadapi kenyataan sosial masyarakat sekarang.

Secara keseluruhan dari 20 cerpen ini, pengarang berhasil untuk menjaga ritme cerita sehingga pembaca akan dihadapkan pada kejutan-kejutan. Dan juga dengan gaya bercerita yang mengalir meskipun ada letupan-letupan perasaan para tokohnya, membuat ceritanya enak untuk dibaca dan dinikmati. Oleh karena itu, buku ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk menghibur pembaca yang sedang gundah atau bingung mencari buku bacaan dimana cakupan  isi dari buku ini telah  mampu memancing daya emosi dan imajinasi pembaca.

 Semoga resensi yang saya buat ini dapat menjadi acuan untuk mengenal lebih dalam  buku ini dari segala aspek baik luar maupun dalam. Selamat membaca. Smile

      *           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar